Pembatasan operasional truk di sejumlah kota besar ternyata berpengaruh terhadap utilisasi armada milik perusahaan logistik. Salah satu yang bekenaan langsung dengan hal itu adalah jam operasional pabrik dan gudang yang belum sepenuhnya 24 jam.
Pengusaha logistik mengeluhkan mengenai kinerja pabrik dan gudang yang belum siap 24 jam 7 hari seminggu. Mustadjab Susilo Basuki, Ketua Umum Perkumpulan Kolaborasi Lintas Usaha Bersama Logistik Indonesia (Klub Logindo) mnengeluhkan jam operasional pabrik yang masih satu shift.
"Pemerintah dulu mendorong pabrik dan gudaang untuk buka 24 jam. Jadi tolong, hal itu dijalankan dalam seluruh proses lini logistik yang ada di Indonesia. Bea cukai sudah 24 jam, trucking 24 jam, depo kontainer juga sudah 24jam. Tetapi bottle neck-nya ada di manufaktur. Pabrik dan gudang ini harus melakukan hal yang sama dong. Paling tidak lakukan 2 shift dulu per 12 jam. Lalu ditingkatkan lagi jadi 24 jam," katanya.
"Yang sekarang terjadi proses distribusi barang terbatas di jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Setelah jam 5 sore truk kami disuruh antri. Jika di luar negeri, kami bisa berikan charge. Misalnya bongkar muat 2 jam, turun naik kontainer 2 jam, antrian di pelabuhan 2 jam, semua ada waktunya dan harus sesuai jadwal, sehingga truknya produkti, " imbuh Mustadjab.
"Lantas bagaimana mau menghilangkan kemacetan dimana-mana dan mencegah jalan rusak? kalau seperti ini. Dalam satu kasus truk datang ke gudang jam 5 sore kemarin, sampai sekarang belum dibongkar. Padahal malam hari, kami sudah ada muatan untuk diambil. Dengan manufaktur belum siap 24 jam, bongkar muatan perlu lebih dari sehari, dan kadang kami menginap 2-4 hari. Dengan alasan gudang penuh, bongkar di pabrik perlu 2-3 hari, itupun baru satu kontainer. Yang miris lagi, pembayarannya 50%, lha kita inginnya dapat 100% per muatan setiap hari," tegas Mustadjab.
Mustadjab melanjutkan, "Ini yang membuat supply chain menjadi tidak seimbang dan menyebabkan pemborosan biaya tranportasi hingga penumpukan peti kemas. Harusnya dengan sistem yang baik menggunakan hub atau gudang antara. Begitu truk datang meski pabrik penuh, barang tetap harus dibongkar ke gudang sementara. Jadi tolong ditegaskan tata kelola logistik yang baru, cargo owner dipastikan tidak boleh menahan bongkaran muatan dalam truk tapi semua langung dibongkar sehingga truknya produktif, hasil akhirnya utilisasi penggunaan armadanya bagus," pungkasnya.
Editor: Sigit Foto : Truckmagz