Bersiap Sambut Logistik dengan Internet of Things

30 / 10 / 2019 - in News

ALI East Java Chapter Discussion and Member Gathering adalah event rutin yang digelar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Chapter Jawa Timur yang mengulas isu dan tren terkini di sektor logistik nasional. Pada event kali ini yang mengangkat tema “The Future of Indonesia Logistics, How Technology Change Logistics Industry” mengundang beberapa praktisi logistik yaitu Adi Nugroho Country Sales Director Alibaba.com, Brian Marshal Founder & CEO Sirclo, Budi Handoko Co Founder Shipper Indonesia, Victor Ary Subekti Chief Compliance & Network Officer Lion Parcel, Eric Saputra Country Head Ninja Express Indonesia

Ivy Kamadjaja Ketua ALI East Java Chapter mengatakan, “Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan kabinet Indonesia Maju. Beberapa prioritasnya berhubungan dengan logistik. Pertama ada membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur. Ketiga, melanjutkan penyederhanaan regulasi. Keempat, memangkas birokrasi dan prosedur. Kelima, transformasi ekonomi dengan mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA). Berbicara ekonomi tidak lepas dari sisi teknologi. Dan sekarang ini, perubahan logistik ini sangat cepat sekali. Proses transisi sangat cepat terjadi, yang dulunya bisnis offline dan sekarang sudah bisa online. Kita semua harus sudah siap berubah. Dan yang paling penting memperhatikan tuntutan konsumen yang menginginkan kiriman yang faster, better dan cheaper. Ini yang menjadi tantangan untuk kita bersama,” jelasnya.

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) adalah organisasi non profit yang terbuka untuk umum bagi pengusaha yang tertarik pada supply chain dan logistik ini didirikan pada Bulan Januari 2003. Jimmy Sudirgo Wakil Ketua ALI East Java Chapter membuka acara gathering dengan mengenalkan praktisi logistik. “Pada gathering kali ini sengaja kami mendatangkan praktisi dari Jakarta untuk membuka wawasan kita bersama mengenai masa depan logistik. Berdasar dari data, Indonesia mempunyai biaya logistik yang cukup besar yaitu infrastruktur yang tidak merata. Sebagai negara kepulauan tentu sangat menantang untuk mengerjakan industri logistik. Berikutnya lagi adalah pengembangan yang tidak bisa kita pungkiri yakni teknologi. Demikian cepatnya perkembangan ini, artinya Internet of Things sudah mulai berkembang. Jadi mari kita gali lebih lanjut lagi tentang logistik di masa depan,” katanya.

Salah satu yang menjadi tren dan sekarang sedang dikembangkan di dunia logistik adalah Blockchain Logistics. Budi Handoko menjelaskan kepada peserta yang hadir. “Berbicara mengenai itu, Indonesia sekarang ini terlalu sibuk untuk benahi yang lain. Seperti yang kita tahu, Blockchain ini lebih kepada bagaimana bisa mensinkronisasi data dan server bisa masuk ke rangkaian blok yang saling terhubung. Blockchain ini pasti digitalize dan memerlukan user yang ikut di dalamnya. Saya perhatikan dari sisi mindset, untuk industri B2B banyak yang masih pakai paper Payment of Delivery untuk dapat tanda tangan konsumen, baru mereka bisa disuruh bayar. Jadi secara mindset untuk di Indonesia belum bisa sampai kesana. Contoh lain lagi adalah kiriman yang menggunakan kapal, saat barang sedang kosong, maka harus tunggu barang ada dulu. Dan waktu tunggu itu bisa sampai sebulan. Jadi hal-hal seperti itu belum fixed, maka kita akan susah masuk ke blockchain,” ujarnya.

Dengan melihat berbagai perubahan dalam dunia logistik, teknologi memberikan peranan penting untuk memenuhi permintaan konsumen. Lantas apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan  Adi berpesan “Jadi pertama yang harus kita lakukan adalah menerima perubahan, suka tidak suka ya memang masuk sudah masuk era digital. Jangan hanya jadi pemakai aplikasi saja tapi jadi seller juga di aplikasi itu. Kita melihat perubahan seperti apa, kita ikuti perubahannya, belajar dari situ jangan menolak perubahan,” katanya. Sedangkan, Bryan mengingatkan, “Mari kita coba mengaitkan diri dengan hal-hal kecil seperti mendengarkan komplain konsumen supaya bisa mengikuti perubahan. Karena kita tidak tahu dari hal kecil bisa muncul trobosan di bidang logistik.

Eric menyarankan pelaku bisnis untuk kembali ke basis. “Last mile industri itu kuat tapi ada masalah padacost, trucking dan sebagainya. Yang penting kita optimis masih bisa kedepannya. Teknologi yang kita punya pasti akan bisa eksis dan terutama pada SDM. Karena bagaimanapun pengiriman juga tetap menggunakan orang dan tidak dilakukan oleh robot. Tips terakhir, Budi mengatakan, “ Mari kita mulai memperhatikan generasi muda yang bisa berpikir digital. Dengan menariknya ke dalam logistik, mereka bisa menciptakan sesuatu yang lain. Anak muda atau fresh graduate bisa sedikit membantu membuka wawasan perusahaan logistik,” ujarnya.

Teks : Sigit A
Foto : Giovanni V



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix