Belajar dari Jepang: Recycling Produk Home Appliance

29 / 07 / 2021 - in Kontributor Ahli

Produk peralatan elektronik rumah tangga (home appliance), seperti TV, kulkas, mesin cuci, dan AC semakin banyak digunakan. Dalam jangka waktu tertentu, produk tersebut harus diganti karena produk secara teknis tidak dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya, produk home appliance yang lama dikemanakan?

Umumnya produk-produk peralatan elektronik mengandung material dan kandungan isi yang berbahaya bagi lingkungan. TV misalnya, mengandung merkuri. Merkuri tidak bisa diurai. Kandungan merkuri dapat menyebabkan risiko penyakit kanker.

Kulkas dan AC mengandung freon yang dapat merusak lapisan ozone. Selain itu, material komponen peralatan elektronik hampir semuanya terdiri dari tembaga, aluminium, plastik, dan styrofoam. Material ini membahayakan apabila proses pembuangannya tidak ditangani dengan baik.

Kesadaran perusahaan sebagai entitas bisnis tidak hanya mengejar profit, namun perusahaan juga telah memerhatikan aspek people dan lingkungan. Ini yang dikenal dengan 3P (profit, people, dan planet), sebagai paradigma baru dalam mengelola perusahaan.

Kesadaran masyarakat global akan pelestarian lingkungan mendorong perusahaan menjalankan bisnis yang ramah lingkungan. Penerapan 3R (reduce, reuse, dan recycle) telah menjadi strategi efektif untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Reduce, dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan material yang dapat merusak lingkungan, seperti plastik, logam, freon, merkuri, dan lain-lain. Selain itu, penghematan energi seperti pengurangan pemakaian energi listrik dan bahan bakar minyak juga merupakan cara untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Reuse, menggunakan kembali peralatan dan kemasan untuk beberapa kali pemakaian. Cara ini juga efektif untuk mengurangi sampah dan pemakaian material, sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Recycle, produk-produk dan kemasan didaur ulang untuk menghasilkan material yang digunakan untuk menghasilkan produk baru.

Daur Ulang
Jepang sebagai negara yang “miskin” sumber daya alam, seperti aluminium, fosil bumi, timah, tembaga, besi, baja, dan lain-lain yang diperlukan sebagai bahan baku industri peralatan elektronik rumah tangga, berusaha berhemat dalam penggunaan bahan baku tersebut.

Umumnya bahan baku dari sumber daya alam diimpor dari negara-negara lain. Penghematan penggunaan bahan baku sumber daya alam yang dilakukan negara Jepang berdampak pada pengurangan beban impor.

Pemerintah Jepang sangat peduli terhadap upaya penghematan pemakaian bahan baku sumber daya alam dan penggunaan energi. Di masa lalu, orang-orang di Jepang biasa memulihkan (recovery) baja dan beberapa logam lainnya dari peralatan rumah tangga akhir (End of Life, EoL) dan membuang sisa peralatan di tempat pembuangan sampah.

Dengan berlakunya Undang-Undang Daur Ulang Peralatan Rumah Tangga (Home Appliance Recycling Law atau disingkat HARL) pada bulan April 2001, sebuah sistem didirikan untuk memulihkan peralatan rumah EoL dengan benar dan efisien dalam mendaur ulang peralatan elektronik rumah tangga, sehingga dapat dilahirkan kembali sebagai bahan baku dan produk baru.

Bagaimana recycling ini dijalankan? Undang-undang HARL membagi tiga pihak yang berperan penting dalam proses recycling, yaitu: manufaktur, retailer, dan konsumen.

Konsumen sebagai penghasil limbah produk home appliance berkewajiban untuk membayar biaya pengumpulan dan pengangkutan limbah dan biaya recycling. Di Jepang, konsumen menghubungi retailer penjual produk home appliance untuk melakukan pick-up limbah produk home appliance ke rumah.

Konsumen membayar biaya untuk pick-up, pengangkutan, dan proses recycling berkisar JPY4,000 s.d JPY5,000 (atau sekitar Rp480.000 sampai Rp600.000) tergantung jenis produknya. Pengecer wajib melakukan pick-up dan mengangkut limbah produk home appliance ke lokasi pengumpulan drop point.

Di Jepang dalam setahun lebih dari 760.000 limbah produk home appliance telah dilakukan recycling di Panasonic Eco Technology Center, dan 90% limbah produk home appliance dapat digunakan untuk bahan baku produk dan dihasilkan produk baru.

Proses recycling dilakukan menggunakan teknologi dan fasilitas recycling modern (automatization) dengan menerapkan standar keamanan dan keselamatan yang sangat ketat. Hasil pengolahan recycling sebagian dapat dijadikan material produk baru dan sebagian menjadi bahan baku untuk material plastik, aluminium, besi, baja ringan, dan lain-lain.

Dengan recycling, negara Jepang dapat menghemat impor bahan baku industri yang umumnya berasal dari sumber daya alam, sekaligus turut menjaga kelestarian lingkungan karena penghematan pemakaian sumber daya alam.

Proses recycling memerlukan solusi logistik balik (reverse logistics). Umumnya logistik merupakan pergerakan material atau produk dari pemasok ke produsen, dari produsen ke grosir, dari grosir ke pengecer, dan dari pengecer ke konsumen. Sedangkan reverse logistics, pergerakan produk dari konsumen ke pengecer, dari pengecer ke produsen, lalu dari produsen ke pemasok.

Kesadaran global dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi dan alam semesta mendorong para pemimpin organisasi bisnis untuk memerhatikan dampak lingkungan. Jepang sebagai negara yang tidak banyak memiliki kekayaan sumber daya alam berusaha untuk menghemat pemakaian material yang berasal dari sumber daya alam.

Paradigma dalam berbisnis perusahaan Jepang “produce, use, return, dan utilize” turut menjaga kelestarian lingkungan bumi dan alam semesta. Political will dari Pemerintah dengan menerbitkan dan menegakkan UU Daur Ulang Peralatan Rumah Tangga, telah menumbuhkan kesadaran dan partisipasi, baik dari dunia usaha maupun masyarakat untuk bersama melakukan recycling limbah produk home appliance. Reverse logistics memfasilitasi proses penarikan dan pengumpulan limbah produk-produk home appliance untuk dilakukan recycling.

Indonesia perlu mencontoh dan menerapkan recycling limbah produk-produk home appliance ini, dan menumbuhkan kesadaran kolektif, baik Pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.

Kesadaran bahwa bumi yang kita huni saat ini perlu kita rawat dan jaga kelestariannya, agar anak-anak generasi mendatang tetap dapat tinggal nyaman dan damai di bumi. Karena, bukankah sejatinya kita meminjam bumi ini dari mereka?

Zaroni | Senior Consultant Supply Chain Indonesia

Editor : Sigit



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix