Begini Strategi Perusahaan Manufaktur Agar Bisa Bertahan di Masa Pandemi

27 / 06 / 2020 - in Berita

Prof. Joniarto Parung, yang juga menjabat Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyampaikan termuan dan pendapatnya mengenai strategi manufaktur pada webinar ALI East Java Chapter dengan tema Managing Supply Chain Disruptions In The New Era Of Reality. Jika pandemi Covid-19 telah menyebabkan adanya supply shocks dan demand shocks yang terjadi pada bidang manufaktur, disisi lain ternyata pandemi ini juga membawa banyak perubahan serta mempercepat tren konsumen.

Prof. Joniarto Parung menyampaikan penjelasan terkait past reality pada manufaktur yang terjadi sebelum pandemi. Poin pentingnya yaitu strategi, transformasi, investasi, dan revolusi industri 4.0. Untuk strategi di bidang manufaktur terkait masalah kecepatan pabrik menyelesaikan masalah termasuk di dalamnya produksi. Dalam hal transformasi, semua bentuk digital terjadi di dalam pabrik dan seluruh manufaktur ekosistem. Dalam sektor investasi, yang dimaksud adalah investasi dalam fasilitas baru, teknologi, dan Research and Development sebagai sarana utama untuk meningkatkan kemampuan produksi. Terakhir, Revolusi Industri 4.0 yaitu transformasi digital yang dilakukan pabrik tetapi biasanya hal ini terjadi tidak merata, tergantung kebijakan pabrik masing masing.

Sebagai acuan anaslisis Prof. Joniarto Parung menunjukan perbedaan fokus perusahaan antara sebelum dan ketika menghadapi pandemi. Sebelum pandemi, perusahaan berfokus pada keuntungan kompetitif, bagaimana cara mengurangi biaya, bagaimana meningkatkan produktivitas yang keberlanjutan dan inovasi. Tujuannya adalah untuk membuat bisnis yang dikelola berjalan lebih baik dengan Industri 4.0. Sedangkan ketika menghadapi pandemi, banyak pabrikan fokus bagaimana cara bertahan hidup. Beberapa berjuang untuk memenuhi demand yang dipenuhi kepanikan. Beberapa yang lain harus menerima keadaan mengalami penurunan dramatis dalam demand dan tekanan untuk memotong biaya operasional,” tuturnya.

“Kenyataan di lapangan kita juga melihat strategi manufaktur sebelum dan ketika pandemi. Tampak perbedaan yang mencolok dari keputusan yang diambil pabrikan ketika menghadapi pandemi. Sebelum pandemi, pabrikan mengurangi biaya dengan melakukan reshoring. Dan ketika pandemi, beberapa pabrikan non-medis beralih mengambik jalur produksi baru untuk menghasilkan produk terkait medis seperti masker, ventilator, baju APD dan yang terkait bahan pembersih. Tapi yang terjadi cukup mengejutkan, sebagian besar pabrik banyak tutup,” jelasnya.

“Untuk strategi jangka panjang dalam menghadapi kondisi ini, pemerintah di berbagai negara menggunakan sektor manufaktur dalam negeri sebagai bagian dari rencana untuk membangun ketahanan strategis setelah situasi krisis. Otomasi dan IoT akan menjadi kunci sebagai upaya menghidupkan kembali manufaktur dalam negeri terutama di negara maju. Dengan strategi yang tepat pemerintah Indonesia bisa accelerate reshoring sekaligus speed atau micro factory. Indonesia harus terus berjuang untuk mengundang investor asing sehingga bisa menjadi tujuan utama relokasi dari reshoring,” tambah Prof. Joniarto Parung.

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix