Balitbang Kemenhub Selenggarakan FGD Penerapan Weigh In Motion

28 / 11 / 2018 - in News
Weigh In Motion

Guna mewujudkan penuntasan over dimension over loading (ODOL), Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbang), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan tema Peluang dan Tantangan Penerapan Weigh In Motion (WIM) untuk Mendukung Kebijakan Over Dimension Over Loading (ODOL).

FGD ini diselenggarakan untuk mengkaji efektivitas WIM dalam rangka pengawasan dan pengamanan sarana dan prasarana serta angkutan jalan sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana Lalu Lintas Jalan. Bila ditinjau dari fungsinya, WIM adalah alat mengukur berat kendaraan, termasuk jarak sumbu. Meski WIM memiliki fungsi yang hampir sama dengan jembatan timbang, namun yang membedakan adalah kemampuan sensor dalam mengukur berat ketika kendaraan masih bergerak.

Data yang bisa didapatkan dari penggunaan WIM antara lain, beban sumbu, beban total kendaraan, jarak antar sumbu, klasifikasi kendaraan dan kecepatan kendaraan. Data itu dapat diperoleh dari berbagai jenis sensor, seperti strain gages, load cell, dan piezoelectric. Untuk mendapatkan akurasi yang lebih baik, WIM harus dikalibrasi ulang setiap tahun dan disertifikasi kembali oleh Badan Meteorologi.

Kepala Balitbanghub Sugiharjo menyatakan, meski penerapan WIM sudah dilaksanakan oleh pengelola jalan tol dan Bina Marga, WIM juga perlu digunakan untuk fungsi yang lain. WIM perlu digunakan untuk memilah kendaraan yang over load agar tidak menghambat trafik karena melaju dengan kecepatan rendah. ”Selain efektif mengurangi beban kerusakan jalan, WIM juga efektif dalam memilah kendaraan yang over load agar tidak melanjutkan berkendara di jalan tol. Kemudian WIM dapat digunakan sebagai alat penegakan hukum,” kata Sugiharjo di Milenium Hotel, Jakarta, Rabu (28/Nov/2018).

Menurut Sugiharjo, secara teknis, WIM dapat digunakan untuk mengefisiensi kinerja jembatan timbang. Karena, mampu memilah kendaraan over load yang harus masuk jembatan timbang dan melakukan penimbangan statis. Karena akrasi dari WIM dan jembatan timbang sedikit berbeda. Sedangkan truk yang tidak melanggar dapat melanjutkan perjalanan tanpa melalui jembatan timbang.

Sugiharjo juga menyebutkan, ada beberapa kendaraan yang tidak harus melalui jembatan timbang karena international regulation, antara lain kontainer dan juga truk tangki. Meski demikian, lanjutnya, Indonesia terdapat anomali pada kontainer dan truk tangki yang menyalahi ketentuan, seperti kontainer yang terbuka bagian atasnya untuk mengangkut pasir. ”Inilah yang kemudian menjadi dilema, karena secara undang-undang kontainer dibebaskan dari jembatan timbang, tapi di sisi lain penyalahgunaan kontainer juga merusak jalan. Oleh karena itu, WIM sangat diperlukan untuk memilah,” jelasnya.

 

Teks: Citra
Editor: Antonius
Foto: Citra



Related Articles

Sponsors

GIIAS

KI-2018-Web-Banner-320x327 (TruckMagz)

1cemat-banner300-80-cn 

logo-chinatrucks300 327pix

FA-CVL-Digital-Banner-300x327-pixel