Asperindo Dukung Produk IKM Indonesia Berjaya di e-Commerce

29 / 03 / 2018 - in Berita

Industri e-commerce yang merupakan bagian dari e-business semakin berkembang, dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan dan potensi e-commerce yang sangat pesat. Namun sejauh ini, kontribusi produk lokal dari sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) di marketplace Indonesia terbilang sangat kecil. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sebanyak 301.730 IKM (Industri Kecil dan Menengah) yang terdata by name by address di Kementerian Perindustrian, hanya 1.730 IKM yang telah dididik untuk siap terjun ke dalam e-commerce. Padahal melalui e-commerce, produsen dan konsumen dapat bertemu dengan zero cost.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) M. Feriadi mengatakan, pihaknya kini tengah memantau potensi pertumbuhan e-commerce untuk membantu para pelaku industri di sektor UKM di seluruh Indonesia. “Seiring teknologi yang begitu berkembang dengan kemajuan internet yang juga berkembang pesat saat ini, sehingga membuat perdagangan online atau e-commerce bisa tumbuh sangat luar biasa. Melalui acara Showcase of Online People (ShOP) yang akan diselenggarakan pada 23-25 Agustus 2018 mendatang, diharapkan dapat menjadi ajang untuk mempertemukan semua stakeholder dan pelaku e-commerce di Indonesia,” ujar Feriadi di Jakarta, Kamis (29/Maret/2018).

Terkait hal tersebut, salah satu yang direkomendasikan dari agenda nasional menuju revolusi industri ke-4 (Industry 4.0) adalah pengembangan platform e-commerce secara nasional.”Di mana dalam kajiannya ternyata di dalam pengembangan atau pemberdayaan IKM-nya menjadi salah satu prioritasnya. Karena sebagian besar dari pelaku industri di Indonesia, 70 persennya adalah IKM,” kata Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian.

Terkait IKM, kata Gati Wibawaningsih, Kementerian Perindustrian punya program e-Smart IKM. “Dalam e-Smart IKM ini sebenarnya yang kami sasar adalah data, karena dengan database yang bagus maka pemerintah dapat menciptakan kebijakan yang tepat untuk masyarakat perindustrian. Jika kebijakannya tepat bagi masyarakat di industri ini maka pastinya nanti hasil produksinya akan bertambah baik, yang pada akhirnya daya saing kita juga akan menjadi lebih baik. Kalau daya saing kita baik artinya produk kita unggul dan kalau produk kita unggul maka tidak ada masyarakat Indonesia yang tidak bekerja, karena semua orang punya income dan otomatis kesejahteraan mereka pun juga terjamin,” paparnya.

Kalah di Marketplace

Mengapa selama ini marketplace masih didominasi produk-produk asing? Lantaran produk lokal Indonesia masih sulit bersaing dalam hal harga, mengingat sebagian besar bahan bakunya masih impor. “Kami di sini tidak berhenti hanya mengajarkan IKM untuk memasarkan produknya melalui e-commerce, melainkan kami menyasar pada kebijakan apa yang harus kami lakukan bagi mereka yang kalah berjualan di e-commerce. Itu sebenarnya tujuan utama kami di e-commerce ini,” ungkap Gati Wibawaningsih.

Melalui program e-Smart IKM, kata Gati Wibawaningsih, pihaknya memiliki peran artificial intelligence yang melakukan evaluasi para pelaku IKM yang kalah di marketplace. “Kenapa dia bisa kalah jualan di marketplace? Apakah bahan bakunya jelek sehingga produknya jelek. Apakah SDM-nya yang jelek sehingga tidak bisa memproduksi produk yang bagus. Apakah mesinnya yang bermasalah sehingga kami bisa membuat kebijakan yang lebih tepat. Dan secara keseluruhan kami akan mengetahui komoditi mana yang harus kami fokuskan, karena anggaran pemerintah di APBN dari tahun ke tahun semakin menyusut. Sehingga kita semua harus lebih cerdas menggunakan APBN. Oleh karena itu melalui artificial intelligence ini, kami dapat membuat kebijakan apa yang harus dilakukan secara tepat,” ujarnya.

Pihak Kementerian Perindustrian juga memiliki program restrukturisasi dengan menggandeng pihak perbankan seperti BNI. Program restrukturisasi ini untuk memberi pelatihan bagaimana cara berdagang dan cara memproduksi barang untuk dapat lebih bersaing di marketplace.

“Kalau SDM-nya sudah bagus akan kita akan berikan bantuan peralatan dan mesin pendukung industrinya, tetapi itu semua tidak free. Karena 70 persen dari harga peralatan atau mesin yang harus dibeli, nilainya silakan ambil dari perbankan yang antara lain dari BNI. Nanti BNI yang menjelaskan tentang program KUR (Kredit Usaha Rakyat), sehingga mereka dapat mengambil pendanaannya dari KUR. 30 persennya disubsidi oleh pemerintah kalau barangnya buatan dalam negeri, kalau barangnya impor subsidi dari pemerintah hanya 25 persen tetapi kondisinya harus baru,” jelas Gati Wibawaningsih.

Sementara itu menurut Wakil Pemimpin Divisi Bisnis Usaha Kecil, Bank Negara Indonesia (BNI) Sunarna Eka Nugraha, dari jumlah pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) kategori 9 sektor, sektor agraris di Indonesia paling besar jumlahnya dengan kontribusi mencapai 49 persen. Diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 28 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar tujuh persen, industri pengolahan mencapai enam persen, sektor jasa swasta sebesar lima persen, sektor keuangan dan sektor bangunan masing-masing mencapai 2 persen, dan 1 persen diisi pelaku di sektor pertambangan dan penggalian.

“Dari komposisi tersebut, sebanyak 59,2 juta pelaku usaha UMKM terlibat di dalamnya. Sehingga kondisi ini merupakan potensi luar biasa untuk menggelontorkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada para pelaku UMKM di Indonesia. Tahun ini target dari pemerintah untuk KUR mencapai Rp 13,5 triliun, sementara realisasinya sampai dengan Maret 2018 telah mencapai Rp 4,5 triliun, dengan jumlah debitur sebanyak 27.146 debitur,” ujar Eka sapaannya.

Untuk mendistribusikan hasil produksinya, menurut Gati Wibawaningsih, pihak Kementerian Perindustrian mengajak kerja sama Asperindo secara keseluruhan supaya barang dari produsen ke tangan konsumen akhir bisa lebih cepat. Dalam konteks e-commerce, untuk pengiriman barang yang cepat baik dari produsen bahan baku ke pabrik atau produsen ke konsumen akhir, sangat diperlukan peran serta logistik di dalamnya. “Artinya, semakin cepat barang itu terkirim maka cost-nya juga semakin murah. Karena yang namanya industri itu harus memperhatikan dari hulu sampai hilir, mulai dari bahan baku sampai ke pintu rumahnya konsumen,” katanya.

Gati mengatakan, dalam hal ini peran Asperindo sangat dibutuhkan. “Sehingga kalau Asperindo sudah mengajak Kementerian Perindustrian untuk bekerja sama, ini menjadi satu langkah yang bagus ke depannya karena pada akhirnya konsumen dapat membeli barang dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.

Menurut Feriadi, konsep acara Showcase of Online People (ShOP) ini mengupayakan dukungan Asperindo dalam perkembangan kontribusi produk lokal IKM Indonesia di marketplace sebagai salah satu platform dalam e-commerce.”Kami juga sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk mensupport industri kecil dan menengah di Indonesia melalui e-commerce. Sebab Asperindo sangat concern dengan pendistribusian produk-produk dari sektor ini, mengingat logistik merupakan aspek yang paling berperan dalam e-commerce,” kata Feriadi.

 

Editor: Antonius
Foto: Anton

 

 



Related Articles

Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix