Aptrindo DKI: Jakarta Over Populasi Truk

16 / 01 / 2020 - in News

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta menilai banyak faktor penyebab turunnya pasar trucking khususnya di kawasan Jakarta sepanjang tahun 2019. Mulai dari penurunan volume arus barang di pelabuhan Tanjung Priok, terjadi pergeseran tren industri hingga pengaruh relokasi kawasan industri yang mulai meninggalkan Jakarta.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada pasar trucking sepanjang 2019? Apa sesungguhanya penyebab anjloknya permintaan order muatan? Apa harapan Aptrindo DPD DKI Jakarta untuk tahun 2020? Berikut petikan wawancara singkat dengan Mustadjab Susilo Basuki, Ketua DPD Aptrindo DKI Jakarta.

Gambaran Aptrindo DPD DKI Jakarta tentang pasar trucking pada tahun ini?
Saya tidak tahu tahun 2020 ada kemajuan atau pengembangan, karena tahun 2019 kita turun 30 persen sampai 40 persen. Ada beberapa yang merasa market tetap stabil bahkan meningkat. Wajar, mereka yang merasa meningkat melayani pabrik yang memang produksinya sedang booming. Dan itu satu-satunya customer besar mereka layani.

Sementara saya kan kebalikannya, melayani banyak customer. Misalnya, customer A yang biasanya kasih order tujuh turun cuma jadi lima, customer B yang biasanya kasih order sepuluh lima sekarang cuma tiga. Jadi penunurunan ordernya terasa sekali.

Apa saja penyebab turunnya pasar trucking pada tahun 2019?
Selama ini kita tidak menyadari terjadi over populasi truk. Dulu sempat dalam sehari bisa tiga trip, artinya satu unit truk dalam sehari bisa muat tiga muatan. Tetapi karena banyak faktor, mulai dari infrastruktur, jalan macet dan pelabuhan belum melayani 24 jam 7 hari. Akhirnya satu truk hanya mampu tangani sekali muatan, mau tidak mau butuh truk tambahan supaya tiga muatan bisa ditangani bersamaan.

Ini yang disalahartikan oleh beberapa pengusaha sebagai peluang, membuat mereka berlomba menambah armada baru. Sekarang setelah semua kendala sebelumnya mulai teratasi, infrastruktur lebih baik dan layanan lebih cepat. Kondisi berubah, kini sudah bisa dua trip dalam sehari, berarti armada yang sudah terlanjur dibeli jadi menganggur atau bisa dikatakan over populasi.

Penyebab lain,BUMN sekarang sudah mulai investasi armada sendiri. Jadi yang harusnya barang itu ketika turun dari kapal kita yang tangani, kini mereka tangani sendiri.

Adakah pengaruh beralihnya beberapa industri Jabodetabek yang kini pindah ke daerah lain?
Ada pengaruh tapi tidak signifikan. Memang seperti di Jakarta ada beberapa tempat yang sudah tidak boleh diperuntukan sebagai kawasan industri seperti di Sunter, Jakarta Utara. Di sana ada beberapa industri otomotif sudah merelokasi pabriknya ke Cikarang dan Karawang, Jawa Barat. Di Jakarta tinggal ada pusat distribusi dan perkantorannya saja

Faktornya cenderung ke bahwa industri sekarang mengalami pergeseran, dulu sempat booming industri garmen dan elektronik. Tapi ketika keduanya mulai melesu tak otomatis berdampak pada trucking langsung. Sebab ada industri penggantinya yang kemudian membuat populasi truk di Jakarta tetap memperoleh muatan. Indonesia ini sasaran empuk konsumerime, sasaran empuk bagi industri dari banyak negara. Mau jual apa pun di Indonesia pasti laku.

Prediksi Anda jika Pelabuhan Patimban sudah beroperasi ?
Kalau pelabuhan Patimban di Subang sudah terbangun dan pergerakan komoditas industri otomotif dialihkan ke sana, tentu kita khawatir. Sehari saja di Tanjung Priok ada sekitar 600 kapal bersandar, misal dari 600 kapal itu ada 200 kapal kemudian pindah ke Patimban tentu berpengaruh terhadap trucking.

Tetapi kita berusaha optimis, selagi nantinya pelabuhan Tanjung Priok bisa menjadi hub portnya Indonesia menggantikan Singapura. Atau Tanjung Priok menjadi pusat konsolidasi barang dari semua daerah untuk dikirim ke luar negeri. Misal, barang dari Papua yang akan diekspor cuma lima kontrainer didrop dulu di Jakarta. Itu artinya akan ada kapal-kapal lebih besar yang bersandar, dan itu pasar baru bagi kita.

Saran Anda agar di Jakarta tidak terjadi over populasi truk?
Perlu pembatasan usia kendaraan dan itu hukumnya wajib. Demi asas keadilan terkait tarif angkut yang tak sebanding antara truk baru dengan truk tua. Akan menjadi tidak sehat persaingannya, truk tua berani kasih tarif murah karena mereka sudah tak punya beban balik modal. Di Jakarta ini idealnya truk yang diperbolehkan lalu-lalang umurnya tak lebih dari 20 tahun.

 

Teks: Abdul
Editor: Antonius
Foto: Abdul



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix