Apakah Perlu Ada Terminal Angkutan Barang

08 / 09 / 2021 - in

Membahas terminal angkutan barang, menarik sekali karena angkutan barang sangat memengaruhi kegiatan logistik. Pertanyaan pertama, apa yang sering jadi permasalahan utama dari perusahaan angkutan barang? Jawabannya adalah ada barang yang dimuat atau tidak, baik pada saat berangkat maupun pada saat pulang. Pertanyaan yang kedua, muatan yang dibawa oleh truk sifatnya kontinu atau hanya sekali atau beberapa kali jalan. Pertanyaan yang ketiga adalah, apakah muatannya penuh, tidak penuh atau muatannya berlebih? Tentunya masih banyak pertanyaan yang lainnya.

Dari tiga pertanyaan tersebut, apakah terminal angkutan perlu ada atau tidak? Kementerian Perhubungan dalam perencanaan dan pengembangannya pernah menyinggung atau bahkan merencanakan untuk mengadakan terminal angkutan barang. Jika dilihat kondisi saat ini banyak sekali truk angkutan barang yang berhenti di rest area, tetapi sampai saat ini fungsi rest area untuk truk angkutan barang adalah sebagai tempat istirahat. Tempat istirahat di rest area antara truk dan kendaraan pribadi atau kendaraan angkutan umum penumpang sudah dipisahkan lokasi pemberhentiannya. Faktornya adalah karena besarnya kendaraan dan muatan yang dibawa.

Pemahaman terhadap terminal truk angkutan barang tersebut berbeda-beda tetapi di sini dapat disampaikan bahwa terminal truk angkutan barang bisa menjadi hub dari kegiatan angkutan barang. Dengan variasi barang yang dimuat tentunya harus dipisahkan lokasinya, agar tidak menimbulkan kontaminasi. Sebagai fungsi hub tentunya bisa sebagai pertemuan barang di samping pertemuan truk yang mengangkut barang. Di terminal truk angkutan barang terdapat tiga kegiatan utama yaitu:

  1. Bongkar
  2. Muat
  3. Cross docking

Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mendirikan terminal truk angkutan barang adalah faktor lokasi. Lokasi tersebut haruslah mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Dekat dengan sentra industri.
  2. Merupakan daerah pertemuan dari berbagai tujuan.
  3. Kemudahan diakses.
  4. Kemudahan untuk bongkar, muat, dan cross docking.
  5. Keamanan dan kenyamanan lingkungan.

Hal-hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan awal. Sebagai contoh hal lain yang bisa menjadi bagian dari kriteria pendirian atau pembangunan terminal angkutan barang, yang dapat juga sebagai tujuan dari pendirian atau pembangunan terminal angkutan barang, antara lain:

  1. Terminal angkutan barang harus dapat menjamin kelancaran arus kendaraan angkutan barang maupun barang yang dimuat.
  2. Terminal angkutan barang hendaknya sesuai dengan rencana umum tata ruang dari kabupaten/kota.
  3. Lokasi terminal angkutan barang hendaknya dapat menjamin penggunaan dan operasi kegiatan terminal yang efisien dan efektif.
  4. Lokasi terminal angkutan barang hendaknya tidak mengakibatkan gangguan pada kelancaran arus kendaraan lain dan keamanan lalu lintas kota serta lingkungan hidup sekitarnya.

Di samping itu, terdapat faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi lokasi dari terminal angkutan barang yaitu:

Merupakan tingkat kemudahan untuk mencapai lokasi terminal angkutan barang yang dapat dinyatakan dengan jarak, waktu, atau biaya angkutan.

  1. Struktur wilayah.

Dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pelayanan terminal angkutan barang terhadap elemen-elemen perkotaan yang mempunyai fungsi pelayanan primer dan sekunder.

  1. Lalu lintas.

Terminal angkutan barang merupakan pembangkit lalu lintas. Oleh karena itu, penentuan lokasi terminal harus tidak lebih menimbulkan dampak lalu lintas tetapi justru harus dapat mengurangi dampak lalu lintas.

Penentuan lokasi terminal perlu memperhatikan biaya yang dikeluarkan oleh pemakai jasa. Oleh sebab itu, faktor biaya ini harus dipertimbangkan agar penggunaan angkutan barang dapat diselenggarakan secara cepat, aman, dan murah.

Penentuan lokasi terminal barang dilakukan dengan mempertimbangkan rencana umum simpul jaringan transportasi jalan yang merupakan bagian dari jaringan transportasi jalan yang ditetapkan oleh Dinas Perhubungan Provinsi, dengan mempertimbangkan rencana induk yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan. Lokasi dan letak terminal angkutan barang ditentukan dengan mempertimbangkan:

  1. Rencana umum jaringan transportasi jalan.
  2. Jaringan lintas dan kelas jalan.
  3. Rencana umum tata ruang provinsi dan kabupaten/kota.
  4. Analisis dampak lalu lintas.
  5. Kepadatan lalu lintas tidak melebihi kapasitas jalan.
  6. Keterpaduan moda transportasi, baik intra maupun antar moda.
  7. Analisis mengenai dampak lingkungan.
  8. Luas terminal barang minimal tiga hektare untuk Pulau Jawa dan dua hektare untuk pulau lainnya.
  9. Akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak sekurang- kurangnya 50 meter di Pulau Jawa dan 30 meter di pulau lainnya, dihitung dari jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.

Di samping itu, setelah mempertimbangan hal-hal tersebut, perlu adanya kriteria dari segi perencanaan terminal angkutan barang. Perencanaan terminal angkutan barang minimal harus mempertimbangkan kriteria berikut ini.

  1. Sirkulasi arus lalu lintas.
  2. Pelaksanaan pemungutan retribusi terminal harus tidak menimbulkan kemacetan atau menghalangi sirkulasi arus lalu lintas atau dapat didukung dengan teknologi informasi seperti penggunaan e-tol card sebagai akses masuk ke terminal, sehingga lebih cepat dan mengurangi penyimpangan dalam pendapatan asli daerah.
  3. Saat menurunkan atau menaikkan barang dan parkir kendaraan barang harus tidak mengganggu kelancaran sirkulasi kendaraan barang itu sendiri.
  4. Luas bangunan ditentukan menurut kebutuhan pada jam puncak berdasarkan kegiatan sirkulasi barang
  5. Tata ruang dalam dan luar bangunan terminal harus memberikan kesan yang nyaman dan aman.
  6. Pelataran terminal.
  7. Luas pelataran terminal.
  8. Area tunggu atau parkir kendaraan.

Dari gambaran konsep terminal angkutan barang tersebut, dapat diperlihatkan bahwa terminal merupakan titik simpul dalam jaringan transportasi jalan khususnya angkutan barang. Teminal merupakan tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan, dan pengoperasian lalu lintas. Sebagai prasarana angkutan yang merupakan bagian dari sistem transportasi untuk melancarkan arus barang.

Pada dasarnya pembahasan tentang terminal angkutan barang sudah diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan. Akan tetapi kabupaten/kota banyak sekali yang menjadikan adanya terminal angkutan barang sebagai sebuah wacana. Dalam Kepmenhub No. 31 tahun 1995 pada Bab I Pasal 1 poin 2 disebutkan bahwa terminal barang adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra dan/atau antarmoda transpor.

Peraturan yang berhubungan dengan terminal barang dijelaskan secara lengkap yang terdiri dari mulai pasal 24 sampai dengan pasal 39 yang meliputi:

  1. Bagian pertama, tentang fungsi terminal.

Terminal barang berfungsi melayani kegiatan bongkar dan/atau muat barang, serta perpindahan intra dan /atau moda transportasi.

  1. Bagian kedua, tentang fasilitas terminal.

Fasilitas terminal barang terdiri dari fasilitas utama dan fasilitas penunjang yang terdiri dari:

  1. Bangunan kantor terminal.
  2. Tempat parkir kendaraan untuk melakukan bongkar dan/muat barang.
  3. Gudang atau lapangan penumpukan barang.
  4. Tempat parkir kendaraan angkutan barang untuk istirahat atau selama menunggu keberangkatan.
  5. Rambu-rambu dan papan informasi.
  6. Peralatan bongkar muat barang.

Sedangkan untuk fasilitas penunjang, antara lain:

  1. Tempat istirahat awak kendaraan.
  2. Fasilitas parkir kendaraan, selain kendaran angkutan barang.
  3. Alat timbang kendaraan dan muatannya.
  4. Kamar kecil/toilet.
  5. Kios/kantin.
  6. Ruang tunggu.
  7. Ruang pengobatan.
  8. Telepon umum atau sarana komunikasi.
  9. Bagian ketiga, tentang daerah kewenangan terminal.

Daerah kewenangan terminal barang, terdiri dari:

  1. Daerah lingkungan kerja terminal merupakan daerah yang diperuntukkan untuk fasilitas utama dan fasilitas penunjang terminal.
  2. Daerah pengawasan terminal, merupakan daerah di luar daerah lingkungan kerja terminal, yang diawasi oleh petugas terminal untuk kelancaran arus lalu lintas di sekitar terminal.
  1. Bagian keempat, tentang lokasi terminal.

Penentuan lokasi terminal barang dilakukan dengan memperhatikan rencana kebutuhan lokasi simpul yang merupakan bagian dari rencana umum jaringan transportasi jalan.

  1. Bagian kelima, tentang pembangunan terminal.

Pembangunan terminal barang harus dilengkapi dengan:

  1. Rancangan bangun terminal
    • Fasilitas terminal barang.
    • Batas antara daerah lingkungan kerja terminal dengan lokasi lain di luar terminal.
    • Pengaturan lalu lintas di dalam terminal dan di daerah pengawasan terminal.
  2. Analisis dampak lalu lintas.
  3. Analisis mengenai dampak lingkungan.
  4. Bagian keenam, tentang penyelenggaraan terminal.

Penyelenggaraan terminal barang dilakukan setelah mendapat persetujuan dari gubernur yang meliputi kegiatan pengelolaan, pemeliharaan dan penertiban terminal.

Pengelolaan terminal barang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan operasional terminal.

Kegiatan perencanaan operasional terminal, meliputi:

  1. Penataan pelataran terminal.
  2. Penataan fasilitas gudang atau lapangan penumpukan barang.
  3. Penataan fasilitas parkir kendaraan untuk melakukan kegiatan bongkar dan/atau muat barang.
  4. Penataan fasilitas penunjang terminal.
  5. Penataan arus lalu lintas di daerah pengawasan terminal;
  6. Pengaturan jadwal petugas di terminal.
  7. Penyusunan sistem dan prosedur pengoperasian terminal.

Kegiatan pelaksanaan operasional terminal, meliputi:

  1. Pengaturan parkir dan arus kendaraan angkutan barang di dalam terminal.
  2. Pemungutan jasa pelayanan terminal barang.
  3. Pengoperasian fasilitas/peralatan bongkar muat barang.
  4. Pengaturan arus lalu lintas di daerah pengawasan terminal.
  5. Pencatatan jumlah dan jenis kendaraan.

Kegiatan pengawasan operasional terminal, meliputi pengawasan terhadap:

  1. Kendaraan angkutan barang selama berada di dalam terminal.
  2. Pemanfaatan fasilitas terminal sesuai dengan peruntukkannya.
  3. Keamanan dan ketertiban di dalam terminal.

Terminal barang harus dipelihara untuk menjamin agar terminal dapat berfungsi sesuai dengan fungsi pokoknya.

Pemeliharaan terminal, meliputi kegiatan:

  1. Menjaga keutuhan dan kebersihan bangunan terminal.
  2. Menjaga keutuhan dan kebersihan pelataran terminal serta perawatan rambu, marka dan papan informasi.
  3. Merawat dan menjaga fungsi fasilitas/peralatan bongkar muat barang.
  4. Merawat saluran-saluran air.
  5. Merawat instalasi listrik dan lampu penerangan.
  6. Merawat sistem hydrant dan alat pemadam kebakaran.
  7. Bagian ketujuh, tentang jasa pelayanan terminal.

Terminal barang dapat melakukan pungutan jasa pelayanan terminal terdiri dari:

  1. Jasa penggunaan tempat parkir kendaraan untuk melakukan bongkar muat barang.
  2. Jasa penggunaan tempat parkir kendaraan angkutan barang untuk istirahat atau selama menunggu keberangkatan.
  3. Jasa penggunaan fasilitas parkir kendaraan, selain kendaraan angkutan barang.
  4. Bagian kedelapan, tentang kewenangan penyelenggaraan terminal.

Kewenangan penyelenggaraan terminal barang berada pada bupati/wali kota, kecuali untuk DKI Jakarta dan Batam yang berada pada gubernur.

Melihat dasar-dasar dalam perencanaan, pembangunan dan operasional terminal angkutan barang sudah diatur dalam Kepmenhub No. 31 tahun 1995, maka apabila tiap daerah membuat terminal angkutan barang sangat dimungkinkan akan membantu menurunkan biaya logistik di Indonesia, dengan catatan penentuan lokasi terminal angkutan barang berada pada lokasi yang tepat.

 

Editor : Sigit



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix