ALFI Jabar Harap Pelabuhan Patimban Jadi Alternatif Akses Ekspor Produk Unggulan Jabar

09 / 07 / 2019 - in News

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah beberapa tahun belakangan ini merupakan suatu kerja nyata yang ditujukan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional, dalam rangka meningkatkan daya saing usaha serta komoditas unggulan ekspor pada pasar global. Sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam jangka waktu singkat.

Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPW ALFI) Provinsi Jawa Barat (Jabar) melihat hal ini sebagai suatu program kerja nyata yang harus dihargai dan didukung semua pihak, agar dapat menuju dan mencapai tujuan mulia tersebut. Salah satunya seperti pembangunan infrastruktur berupa jalan lintas darat yang berupa jalan bebas hambatan atau dikenal dengan jalan tol, untuk menghubungkan kota-kota besar di suatu pulau atau menghubungkan sentra ekonomi dan industri menuju pelabuhan utama baik laut maupun udara.

Namun demikian, DPW ALFI Jabar melihat pembangunan jalan tol ini pada kenyataannya terdapat beberapa hal yang kurang sejalan terhadap tujuan mulia dari pemerintah tersebut, terutama bagi pengusaha dan pengemudi angkutan barang serta pelaku jasa logistik, yaitu diantaranya;

• Surat Edaran Kepala BPTJ nomor SE 5 Tahun 2019 tertanggal 8 Juli 2019 tentang Penggunaan Gerbang Tol Koja Barat untuk Kendaraan Golongan III, IV, dan V yang mana maksudnya kepada angkutan barang dari arah Cilincing, Marunda dan sekitarnya yang tidak melakukan aktivitas di pelabuhan atau terminal peti kemas Tanjung Priok, agar menggunakan jalan tol yang melalui pintu masuk tol Koja Barat terhitung mulai tanggal 8 Juli 2019. Padahal ruas jalan tol dari pintu masuk Koja Barat ini terbilang cukup mahal bagi angkutan barang atau pelaku jasa logistik.

• Kondisi akses jalan dari dan menuju pelabuhan utama Tanjung priok yang selalu terkendala macet berjam-jam akibat adanya situasi penyempitan ruas jalan di sekitar pelabuhan, serta kemacetan di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek

• Pembatasan jam truk barang untuk masuk jalan tol Jakarta-Cikampek antara jam 06.00-10.00 WIB dan masalah pelarangan masuk truk pada saat hari libur panjang (termasuk hari raya)

Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan gambaran tidak sejalannya tujuan pembangunan infrastruktur yang dibangun pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing produk, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan volume ekspor melalui pelabuhan utama khususnya pelabuhan Tanjung Priok.

Bagi pelaku usaha industri manufaktur dan pelaku jasa logistik yang berada dalam lingkup kerja DPW ALFI Jabar, kondisi ini merupakan tantangan berat serta menjadi hambatan utama untuk meningkatkan kelancaran arus ekspor barang yang melalui pelabuhan Tanjung Priok.

“Karena saat ini tidak ada pilihan lain selain pelabuhan tersebut untuk kami yang berada di Jawa barat melakukan aktivitas perdagangan internasional (ekspor dan impor). Ini suatu hal yang terlewat batas, membuat suatu kebijakan di mana kepentingan korporasi (pengelola jalan tol) lebih diutamakan daripada kepentingan perekonomian regional bahkan nasional,” kata M. Nuh, Ketua Umum DPW ALFI Jabar dalam keterangan resminya, Selasa (9/7/2019).

Oleh karenanya, menurut M. Nuh, pelaku usaha industri manufaktur dan pelaku jasa logistik di Provinsi Jawa Barat sangat berharap agar pemerintah segera mewujudkan Pelabuhan Patimban (Subang, Jabar) sebagai alternatif akses pelabuhan untuk perdagangan internasional, yang diharapkan mampu menekan biaya produk unggulan ekspor dari wilayah Jawa Barat ke pasar global.

 

Editor: Antonius
Foto: Istimewa



Sponsors

NEW_327X300_

AFFA-logisticsphotocontest 

Capture 

logo-chinatrucks300 327pix