Adakah Aturan Standardisasi Keamanan Ban?

20 / 07 / 2015 - in Ask The Expert

Tanya :

Apakah ada sebuah aturan tentang standardisasi keamanan ban di Indonesia dan luar negeri?

Didik Supriyatno, Surabaya

Jawab :

Melanggar aturan bagi sebagian orang mungkin sudah merupakan hal yang biasa, namun jangan coba-coba untuk melanggar standardisasi keamanan ban         karena bisa berakibat fatal bagi keselamatan jiwa semua pengguna jalan. Ban merupakan salah satu bagian yang vital dalam sebuah kendaraan. Banyak sekali kecelakaan yang diakibatkan pemakaian ban dengan spesifikasi yang tidak benar dan kondisi yang tidak layak, seperti kendaraan mengalami selip, kendaraan sulit dikendalikan (oversteer atau understeer) atau ban meledak.

Setiap kali seseorang membeli kendaraan baru, pabrikan selalu menyertakan buku petunjuk atau manual book. Di dalam manual book dijelaskan data teknis tentang kendaraan tersebut termasuk ukuran ban yang direkomendasikan pabrik. Dalam menentukan ukuran ban, pabrikan kendaraan selalu berkonsultasi dengan pabrikan ban agar ban yang digunakan sesuai dengan spesifikasi mobil yang diproduksi.

Pabrikan ban selalu mencantumkan standardisasi pemakaian ban pada dinding samping tiap-tiap ban, seperti ukuran ban, jenis ban, standar tekanan angin, daya angkut (load index), indikator kecepatan (speed symbol), karakter compound, tahun pembuatan, sertifikasi dan tujuan pemakaian (segmentasi).

Pemilihan ukuran ban yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan merupakan hal yang sangat penting, karena pemakaian ban dengan ukuran yang tidak tepat sangat berpengaruh pada keselamatan dan kenyamanan pengguna kendaraan. Ukuran ban tidak dapat sembarangan diubah tanpa memperhatikan standardisasi keamanan.

Ukuran ban sebenarnya bukan merupakan hal yang mutlak tidak dapat diubah. Ukuran ban dapat diubah selama masih berada dalam koridor standar equivalent sizes. Sebagai contoh, ukuran ban 10.00 R 20 (100’s Series) dapat digantikan dengan ban ukuran 11 R 22.5 (90’s Series) atau dapat juga digantikan dengan ban ukuran 295/80 R 22.5 (80’s Series). Jika perubahan ukuran ban keluar dari equivalent sizes, risiko terkecil yang bakal diterima adalah speedometer error karena putaran rodanya menjadi lebih kecil atau lebih besar daripada yang seharusnya.

Penggantian ukuran ban bertujuan untuk mengadaptasi daya angkut (tonase). Sedangkan penggantian pattern bertujuan untuk mengadaptasi kondisi medan jalan dan cuaca (tol, jalan provinsi, jalan perkotaan, tanah, berbatu, berlumpur atau bersalju).

Pabrikan juga membuat indikator batas maksimal pemakaian ban yang disebut TWI (tread wear indicator) berupa tonjolan-tonjolan dalam cerukan alur telapak ban dengan tujuan agar pemakaian ban tidak melewati batas TWI tersebut.

Hal-hal tersebut merupakan standardisasi keamanan ban yang dibuat oleh pabrik yang sebenarnya harus dipahami oleh pengguna. Standardisasi ban ini berlaku sama di negara mana pun di seluruh dunia. Yang berbeda adalah moralitas orangnya (penggunanya).

Di negara negara maju, keselamatan dalam berkendara dianggap sebagai hal yang sangat penting. Kesadaran masyarakatnya untuk mematuhi aturan sangat tinggi. Mereka menyadari betul bahwa aturan terutama standardisasi keamanan dibuat demi keselamatan orang banyak. Hal ini yang kurang disadari di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, penegakan aturan oleh aparat terhadap para pelanggar, tak ubahnya bagaikan kucing dan tikus. Di saat aparatnya (ibarat kucing) mengawasi dengan tegas, pelanggarnya (ibarat tikus) takut melakukan pelanggaran. Namun di saat aparatnya lengah, pelanggarnya pun akan berani melakukan pelanggaran.

Di negara-negara maju seperti di Amerika dan Eropa, yang semua kendaraannya sudah diasuransikan, untuk mengubah atau memodifikasi setiap bagian kendaraan termasuk ukuran ban yang digunakan, pemilik harus mendapatkan rekomendasi dari polisi, asuransi dan lembaga penguji kendaraan (KIR).

Di Indonesia, jangankan melalui rekomendasi lembaga terkait, sampai dengan perubahan bentuk (misalnya, pemanjangan/pemendekan chassis) dilakukan tanpa melalui perhitungan rumus geometri yang benar. Kebanyakan berdasarkan kira-kira saja. Maka tronton asli buatan pabrik apabila dibandingkan dengan tronton hasil modifikasi sendiri, pemakaian bannya pasti akan lebih awet tronton asli buatan pabrik.

Walaupun aturan standardisasi keamanan kendaraan sudah ditentukan oleh pabrikan sesuai spesifikasi, harus ada lembaga pengawas yang kredibel yang bertanggung jawab memastikan bahwa aturan standardisasi tersebut dilaksanakan secara benar. Seperti contohnya TÜV di Jerman, Department of Transportation (DOT) di Amerika Serikat dan juga DLLAJR di Indonesia. Obyektivitas lembaga pengawas harus dijaga agar tidak terjadi tebang pilih, semua harus diperlakukan sama di muka hukum. Hal ini harus dilakukan karena sebuah pelanggaran yang dilakukan secara terus-menerus dan sudah menjadi kebiasaan, akhirnya sering dianggap sebagai suatu kebenaran.

Agar masyarakat lebih memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan, diperlukan peran media untuk ikut mengedukasi masyarakat dengan pemberitaaan yang lebih bersifat teknis ketimbang bombastis.

Bambang Widjanarko 

Tire Advisor, Pirelli & Double Coin Tbr



Sponsors

NEW_327X300_

AFFA-logisticsphotocontest 

Capture 

logo-chinatrucks300 327pix