Tiga Hal Ini Perlu Dapat Perhatian dalam Penataan Ekosistem Logistik Nasional

30 / 03 / 2021 - in Berita

Pemerintah bertekad mengimplementasikan penataan Ekosistem Logistik Nasional dalam upaya mendukung kelancaran aktivitas sektor industri, sesuai dengan amanat Instruksi Presiden (Inpres) No.5 Tahun 2020 Tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional. Langkah ini guna mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif sehingga dapat memacu perekonomian nasional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Muhammad Khayam menjelaskan bahwa Kemenperin mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo terkait pelaksanaan penataan ekosistem logistik nasional.

“Bapak Presiden Jokowi secara khusus memberikan instruksi kepada Kemenperin untuk menyederhanakan proses bisnis serta mengintegrasikan sistem pengajuan persyaratan perizinan ekspor dan impor di Kemenperin dengan Ekosistem Logistik Nasional melalui Indonesia National Single Window (INSW),” kata Dirjen Khayam pada acara FGD Kebijakan Logistik Nasional terhadap Sektor IKFT di Tangerang, Selasa (30/3).

Ia menyebutkan, sedikitnya ada tiga hal utama yang perlu mendapat perhatian dalam melaksanakan tugas penataan Ekosistem Logistik Nasional tersebut. Pertama, kolaborasi layanan pemerintah dengan platform logistik swasta. Kedua, regulasi yang efisien dan standar layanan yang prima. Ketiga, dibutuhkan strategi penataan yang tepat.

“Untuk mendukung efektivitas kolaborasi tersebut, kementerian dan lembaga pemerintah harus menerbitkan regulasi yang efisien pula. Sistem elektronik dan regulasi yang efisien adalah dua hal yang saling membutuhkan. Presiden menyatakan bahwa peningkatan efisiensi kinerja logistik nasional sudah diupayakan tiga sampai empat tahun lalu. 3-4 tahun lalu, sehingga strategi yang akan diterapkan harus mampu secepatnya menunjukkan hasil yang dapat dinikmati,” ujar Dirjen Khayam menjelaskan.

Dirjen IKFT optimitis, penataan Ekosistem Logistik Nasional diyakini dapat mendukung kinerja industri nasional, yang diharapkan juga mampu mendorong upaya pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. “Industri merupakan sektor yang konsisten memberikan kontribusi terbesar pada PDB nasional, seperti capaian pada tahun lalu sebesar 19,88 persen,” ungkap Khayam.

Meski demikian, menurutnya, guna menggenjot perekonomian perlu didukung kebijakan semua sektor, agar Harga Pokok Penjualan (HPP) dari hasil produk dapat berdaya saing terhadap produk-produk impor.

Perlu diketahui, bahwa beberapa faktor dominan terhadap kinerja industri nasional seperti harga gas berhasil ditekan mencapai USD 6 per MMBTU. “Hal serupa tentu kita inginkan agar ongkos angkut dalam negeri kelak dapat jauh lebih murah daripada ongkos angkut luar negeri,” ujar Khayam.

 

Editor: Antonius
Foto: Dok. TruckMagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix