Jumlah Ply Rating Tidak Identik dengan Daya Muat Ban

22 / 03 / 2021 - in Berita, Kontributor Ahli

Ban merupakan komponen dengan pengeluaran termahal dalam perhitungan biaya operasional kendaraan niaga seperti truk, bus dan taksi. Untuk mensiasati perbedaan jenis medan daerah operasional berupa aspal, beton, tanah, lumpur dan bebatuan, pengusaha angkutan kerap menggonta-ganti pola telapak dengan beragam pilihan yang tersedia di pasaran.

Pengusaha truk juga kerap mengganti ban nya dengan ukuran yang lebih besar ( upsize ) agar bisa mengangkut beban muatan lebih berat. Tire & Rim Consultant terbaik di tanah air, Bambang Widjanarko mengatakan, ada pemahaman yang keliru tentang kemampuan daya muat sebuah ban.

“Pemahaman yang keliru tersebut adalah ban yang mempunyai jumlah ply rating (PR) lebih banyak, secara otomatis akan mempunyai daya muat yang lebih tinggi daripada ban dengan jumlah ply rating lebih sedikit,” katanya.

Bambang menjelaskan,”Padahal kekuatan sebuah ban bukan semata-mata hanya tergantung dari jumlah ply rating-nya saja. Namun kualitas karet compound, kualitas bahan-bahan kimia pendukung lainnya, teknik pencampuran bahan bakunya dan teknologi konstruksinya, bahkan kualitas kawat baja ply rating nya pun ikut berpengaruh terhadap kekuatan sebuah ban,” katanya.

“Sebagai contoh jika kita membangun sebuah rumah, maka kekuatan bangunannya tidak hanya bergantung pada ketebalan besi betonnya saja. Namun juga dipengaruhi oleh kualitas semennya, kualitas pasirnya, kualitas batu batanya, perbandingan campuran pasir dan semennya serta teknologi konstruksi rancang bangunnya,” imbuh Bambang lagi.

Ciri produsen ban truk dan bus asal China sering menggunakan 18 ply rating untuk konstruksi ban berukuran 10.00 R 20 dan 11.00 R 20. Berbeda halnya dengan ciri produsen ban asal Eropa, Amerika dan Jepang yang lebih suka menggunakan 16 ply rating untuk kedua ukuran tersebut.

Bambang menegaskan, bahwa ban truk dan bus dengan jumlah 18 ply rating tidak lantas secara otomatis lebih unggul daya muatnya dibanding ban dengan jumlah 16 ply rating. Bukan pula tergantung pada tampilan pola telapak ban yang kasar atau halus.

Sebagai teknisi yang sering memberikan edukasi secara langsung di lapangan, Bambang juga sering menemui pemahaman yang tidak benar, bahwa ban dengan pola telapak halus tidak sekuat ban dengan pola telapak kasar. Sehingga ban dengan pola telapak halus sering hanya dipakai untuk posisi setir (steering axle), sedangkan ban dengan pola telapak kasar hanya dipakai untuk posisi gardan tarikan ( drive axle ) dan ban pengikut ( free roling axle ) saja.

“Sebenarnya bukan seperti itu sebabnya, namun ban dengan pola telapak halus lebih tidak merusak king pin daripada ban dengan pola telapak kasar, jika dipakai pada posisi setir. Tapi daya muat sebuah ban hanya tergantung pada angka yang tertera pada load index nya saja, bukan pada tampilan pola telapak ban atau tulisan yang lain,” pungkas Bambang.

Editor : Sigit

Foto : Dokumentasi Pribadi



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix