Indonesia Belum Punya Data Resmi Kinerja Logistik

26 / 03 / 2021 - in Berita

Untuk meningkatkan performa sistem logistik, salah satunya perlu memaksimalkan fungsi trasnportasi. Yaitu dengan memperlancar pergerakan arus barang secara efektif dan efisien dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kinerja logistik nasional.

Menanggapi hal itu, Dr. Nofrisel selaku Kepala Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Logistik, Supply Chain dan SDM mengatakan bahwa biaya transportasi merupakan komponen biaya logistik yang terbesar dalam struktur biaya logistik. “Biaya transportasi ini adalah biaya terbesar dalam sistem logistik. Jika menggunakan pareto perspective maka membenahi transportasi itu bisa mengurangi biaya cost hingga 39% kalau bisa sih ditekan lebih jauh. Tapi perlu diingat transportasi ini tidak bisa berdiri sendiri. Ada darat, laut dan udara punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Karena itu masing-masing moda ini harus kolaborasi atau dikoneksikan, ini harapan kita yang belum selesai sampai hari ini,” buka Dr. Nofrisel pada FGD bertajuk ‘Arah Kebijakan Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Kedepan” yang digelar Kemenko Ekon pada Jumat (25/3).

Sebagai pelaku logistik Dr. Nofrisel menyarankan ada kolaborasi dalam membangun Sislognas. “Kami di korporasi hanya memanfaatkan apa yang ada karena tidak bisa bangun infrstruktur sendiri. Sehingga hal seperti ini perlu pertimbangan dalam membangun Sislognas kedepan. Tuntutan intermodal transportation system adalah keniscayaan, yang harus terus dibangun dalam jangka waktu panjang tapi harus dilakukan bersama-sama,” katanya.

Saat mengulas mengenai Sislognas, Dr. Nofrisel memberikan gambaran kondisi sistem logistik nasional. “Saya menilai logistik kita tidak ada leading sector-nya semua kementerian merasa berkepentingan untuk mengatur logistik. Jadi sebenarnya tidak tahu pemimpin logistik di Indonesia itu siapa. Ketika bicara tentang pengaturan itu menjadi tidak jelas. Ini yang membuat sistemnya lemah,” katanya.

“Berikutinya, visi pengembangan logistik antara pemerintah pusat dengan daerah ini kadang tidak sinkron, baik regulasi, infrastruktur, alokasi anggaran maupun pengembangan SDM. Ini sinkronisasinya lemah. Setiap pemerintah daerah punya aturan sendiri. Hal ini yang melemahkan logistik nasional. Perlu sekali membangun percepatan peningkatan sektor logistik bersama-sama,” tegasnya.

Dari tinjaunnya, terungkap bahwa masalah lain sistem logistik di Indonesia adalah belum punya rujukan data resmi kinerja logistik. “Rujukan data kinerja yang masih menjadi PR kita bersama. Sampai hari ini pemerintah tidak pernah merilis resmi data tentang logistik. Yang dipakai adalah data World Bank (LPI), Frost & Sullivan Research, Deloitte dan sebagainya. Dan kita tidak punya satu data resmi, dari lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah yang dirilis secara periode kemudian data itu dijadikan patokan, atau menjadi semacam second opinion terhadap data performance logistics. Sangat disayangkan, sampai hari ini belum punya. Karena ini sangat penting untuk langkah selanjutnya pengembangan Sislognas,” katanya.

Dr. Nofrisel juga memberikan rekomendasi untuk menata Sislognas menjadi lebih baik. “Karena Sislognas itu bagian dari milestone yang besar, kita perlu ada perubahan untuk membenahi logistik nasional. Logistik ini adalah satu kepastian dan sumbernya ada di regulasi. Jika aturan masih tumpang tindih, saling bertentangan maka tidak bisa mencipatakan kepastian logistik. Perlu sekali menertibkan regulasi dan ini pekerjaaan besar tapi ini harus dilakukan,” sarannya.

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix